Makam Tua di Tanjung Rema, Disbudpar Banjar: Direncanakan Jadi Cagar Budaya

WARTAKOTA.NET – Pada tahun 2019 lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banjar mempunyai rencana untuk menjadikan salah satu dari ratusan makam di Taman Makam Kelompok Etnis Tionghoa milik Yayasan Persatuan Penolong Kematian Martapura, yang beralamat di Jalan Tanjung Rema Kelurahan Tanjung Rema Darat, Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar sebagai cagar budaya.

Konon, makam yang hendak dijadikan cagar budaya oleh Disbudpar Kabupaten Banjar itu usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun. Bahkan Disbudpar Kabupaten Banjar sempat membentuk tim untuk melakukan penelitian bersama Balai Arkheologi pada tahun 2019 lalu terhadap makam itu. Tujuannya tidak lain adalah untuk memastikan usia makam.

“Jika sesuai kriteria, maka akan ditetapkan sebagai cagar budaya, namun kita masih menunggu hasilnya,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, Haris Rifani.

Makam yang direncanakan jadi cagar budaya. Foto – Sai

Dari segi bentuk, makam itu memiliki bentuk yang sangat mirip dengan makam Tionghoa pada umumya. Namun bedanya, makam tua itu lebih luas dan terlihat lebih mewah dibandingkan dengan makam lain di sekitarnya.

Tak hanya itu. Selain dilengkapi dengan taman, di depan makam itu juga ada bangunan semacam kolam berdiameter sekitar 8 meter. Menariknya lagi, makam juga dihiasi ornamen khas Tionghoa seperti kalimat bertuliskan huruf China, bunga teratai, patung singa gurun, dan disalah satu sisi ada menara dewa bumi.

“Jika dilihat dari bentuk, makam ini terlihat mewah. Hanya saja tidak terlihat karena termakan usia. Selain luas juga dilengkapi taman dan kolam. Mungkin bukan warga Tionghoa biasa pada zaman dulu,” kata Haris.

Menurut Haris, makam tua itu diyakini milik warga Tionghoa muslim atau beragama Islam. Selain dari cerita orang-orang sekitar, hal tersebut juga diperkuat dengan adanya satu makam berciri khas kuburan muslim di sampingnya.

Masih kata Haris, berdasarkan cerita dari masyarakat sekitar, makam tua tersebut adalah makam warga Tionghoa muslim bernama Syekh Mahmud bin Latif. Sedangkan makam muslim di sampingnya adalah asistennya bernama N. Katung alias Siti Aisyah seperti tertulis di nisan kuburan.

“Ada ratusan makam warga Tionghoa di sana tapi hanya dua makam yang muslim,” tuturnya. (sai/dm)

What do you think?

Tinggalkan Balasan

Komitmen Terapkan Protokol Kesehatan Selama Proses Pemilu 2020

Mengejar Layangan Putus Hingga ke Persawahan