Sabri Tetap Eksis Berjualan Lahang

WARTAKOTA.NET – Salah satu minuman favorit jelang berbuka di Kota Martapura selain temulawak adalah lahang. Bukan es lahang yang kini ramai dijual di banyak daerah di Kalsel, namun lahang asli yang baru dipanen dari pohonnya.

Sabri, warga Tambak Anyar Kecamatan Martapura Timur Kabupaten Banjar, hingga kini masih setia menjual minuman lahang.

Menggunakan kendaraan roda duanya, ia mengangkut air dari pohon enau tersebut dengan wadah unik, yakni dari batang bambu.

Sabri biasa mangkal (menjajakan dagangannya) di Pasar Martapura. Tak sampai waktu salat ashar tiba, lahang yang ia bawa sekitar 70 liter ludes terjual dalam sehari.

“Kalau ashar itu bulik (pulang) sudah, habis biasanya,” ujarnya.

Lahang atau air nira yang dijual Sabri ini tergolong unik karena memiliki tiga varian rasa. Sabri sehari-harinya menyiapkan tiga macam lahang dengan wadah yang berbeda.

Ia menjual lahang asli di dalam jerigen, begitu juga dengan lahang yang direbus.

Sementara lahang yang diasap disimpan di dalam bambu. Uniknya lagi demi mempertahankan sisi tradisionalnya, Sabri menggunakan ijuk untuk menyaring kotoran air nira, bukan menggunakan saringan modern pada umumnya.

“Merebusnya juga pakai kayu bakar biar ada aromanya,” tambahnya.

Menurutnya, ciri air lahang asli yang tidak dimasak adalah berbuih begitu dituang. Air lahang yang bagus adalah masih berwana kuning agak jernih, sementara lahang yang terlalu lama direbus akan berwana merah tua.

Sifat air lahang yang asam jika terlalu lama terkena panas membuat Sabri memiliki cara unik saat menjualnya, yakni dengan direndam di dalam air. Begitu juga jika air lahang akan dibawa ke lokasi jauh, maka akan direndam ke dalam air.

Sabri mengaku memilih mempertahankan berjualan lahang dengan bambu, karena bambu adalah ciri khas penjual lahang di Martapura.

Dulu sebutnya, ada banyak penjual lahang di Martapura. Namun seiring berjalannya waktu tersisa dirinya yang mau berjualan lahang.

Terlebih ungkapnya lagi, kini jumlah pohon nira di daerahnya di Tambak Anyar juga sudah mulai berkurang. Sementara pohon yang masih ada juga sudah menjulang tinggi.

“Dua puluh lima persen ada kurangnya pohonnya sudah,” sebutnya.

Keunikan Sabri yang masih mempertahankan/eksis berjualan lahang dengan bambu juga menarik pembeli. Tak jarang pembeli ingin membeli lahang langsung dari batang bambu.

Sabri menyebutkan, satu batang bambu berisi sekitar 6 liter air lahang. Ia sendiri mengaku sudah berjualan lahang sekitar empat tahun.

“Sebelumnya saya jualan gula habang, ini saya generasi keempat yang jualan lahang dari datu saya,” pungkasnya. (sai/dm)

What do you think?

Tinggalkan Balasan

BST Sudah Dapat Dicairkan

DPRD Kabupaten Banjar Akan Bentuk Pansus RTRW